AMBON,Malukubisa.netWali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, mengeluarkan peringatan keras terkait proses seleksi Sekretaris Kota (Sekot) yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa ajang pencarian figur nomor satu di birokrasi Pemkot Ambon ini harus tetap steril dari intervensi kepentingan kelompok, praktik “dukung-mendukung”, maupun pembentukan tim sukses layaknya kontestasi politik.
Sikap tegas ini diambil menyusul munculnya fenomena polarisasi di kalangan ASN dan masyarakat, di mana mulai terbentuk blok-blok pendukung untuk masing-masing calon. Wattimena menilai hal tersebut sangat berbahaya karena dapat mencederai prinsip netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mengaburkan tujuan utama seleksi.
“Kekhawatiran saya beralasan. Saat ini sudah terlihat adanya blok-blok pendukung. Perlu diingat, jabatan Sekretaris Kota adalah puncak karier ASN, bukan jabatan politik,” ujar Wattimena dengan nada serius. “Ini bukan ajang kampanye. Tidak boleh ada tim sukses, tidak boleh ada saling serang. Coba lihat di media sosial, para calon sudah dihujat habis-habisan. Ini tidak sehat.”
Wali Kota menekankan bahwa esensi dari seleksi terbuka ini adalah menemukan pemimpin birokrasi terbaik yang mampu membawa Kota Ambon melaju ke depan, bukan sekadar melanjutkan masa lalu atau mewakili kepentingan golongan tertentu.
“Kita sedang mencari nahkoda untuk masa depan birokrasi kita. Karena itu, saya meminta publik untuk berhenti menjatuhkan fitnah dan serangan pribadi. Mari kita jaga kondusivitas agar proses seleksi berjalan objektif dan transparan,” pintanya.
Wattimena juga menjamin bahwa seluruh tahapan seleksi akan dijalankan dengan prinsip profesionalitas tinggi. Pemerintah Kota Ambon berkomitmen penuh untuk menghasilkan Sekkot definitif yang tidak hanya memenuhi syarat administratif, tetapi juga memiliki integritas, kapasitas manajerial, dan visi yang jelas untuk menjawab tantangan pembangunan daerah.
Dengan teguran ini, Wattimena berharap suasana seleksi segera kembali dingin dan rasional, sehingga fokus semua pihak tertuju pada kualitas kandidat, bukan pada popularitas atau kekuatan politik di belakang layar.












