AMBON,Malukubisa.Net-Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena mengapresiasi perkembangan musik jukulele di Kota Ambon yang dinilai semakin pesat dari tahun ke tahun.
Hal tersebut disampaikan Bodewin saat menghadiri Grand Final Jukulele Festival Kota Ambon tahun ketiga yang berlangsung di Pattimura Park, Kota Ambon, Senin (31/8/2026).
Bodewin mengatakan, pelaksanaan festival jukulele telah memasuki tahun ketiga. Menurutnya, kegiatan tersebut pada awalnya digelar sebagai upaya untuk melihat perkembangan para pemain jukulele di Kota Ambon.
“Ini sudah tahun ketiga. Pada saat kita sebagai Penjabat Wali Kota di tahun kedua, kita memulai ini dengan, ya mau dibilang, kita coba-coba. Karena pemain jukulele sudah semakin banyak di Kota Ambon, lalu kita coba membuat sebuah kompetisi untuk paling tidak mengetahui perkembangan jukulele di Kota Ambon,” ujar Bodewin.
Ia mengungkapkan, pada pelaksanaan tahun pertama, sebagian besar peserta masih memainkan jukulele dengan teknik dasar. Namun, perkembangan mulai terlihat pada pelaksanaan tahun kedua, di mana hampir seluruh peserta sudah mampu memainkan melodi.
“Pada saat itu rata-rata semua tim masih krenjeng-krenjeng. Ada satu dua yang sudah mulai main melodi. Di tahun kedua, hampir semua sudah bermain melodi. Sekarang ini luar biasa,” katanya.
Bodewin menilai, perkembangan tersebut menunjukkan adanya kemajuan yang sangat signifikan dalam pelaksanaan Jukulele Festival dari tahun pertama hingga tahun ketiga.
“Artinya apa? Dibanding dengan pelaksanaan tahun pertama dan kedua, tahun ketiga ini mengalami progres yang luar biasa. Tepuk tangan buat kita semua,” ungkapnya.
Menurut Bodewin, peningkatan tersebut tidak terlepas dari peran para pelatih serta kemampuan anak-anak yang mengikuti festival.
“Ini karena apa? Karena pelatihnya hebat, anak-anak yang bermain juga hebat. Ini kebanggaan buat kita semua. Kita mesti bangga di sini,” tuturnya.
Selain kemampuan bermusik, Bodewin juga memberikan apresiasi terhadap kreativitas peserta dalam menampilkan busana. Ia menilai, terdapat perubahan signifikan dibandingkan pelaksanaan festival pada tahun pertama dan kedua.
“Di season satu dan dua, busananya biasa-biasa saja. Tapi sekarang coba lihat, muncul busana-busana yang menurut kita luar biasa. Ini busana modern, ciri Ambon tapi dibuat modern. Luar biasa,” katanya.
Ia menyebut, kreativitas tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya berkembang dari sisi teknis bermusik, tetapi juga mampu mengembangkan konsep penampilan dan identitas budaya Ambon secara kreatif.
Bodewin berharap, perkembangan positif yang terlihat pada Jukulele Festival tahun ketiga dapat terus ditingkatkan pada pelaksanaan tahun berikutnya.
“Tadi Pak Roni sudah bilang, dari sisi teknis pun peningkatan luar biasa, dari penampilannya luar biasa, kostumnya luar biasa, semua sudah semakin luar biasa. Nah, kita berharap di tahun depan semakin lagi meningkat,” harapnya.
Ia turut memberikan apresiasi kepada para pelatih dan pengaransemen yang telah membimbing para peserta hingga mampu menyajikan berbagai lagu dengan aransemen yang semakin baik.
Bodewin juga menyinggung salah satu lagu yang dibawakan peserta, yakni “Sapalai”, karya musisi Maluku, Edi Latuharhary.
“Ini lagu yang kita sudah garapkan dari beta masih SD. Ini ciptaannya Om Edi Latuharhary. Dulu waktu lomba-lomba vokal grup Wali Kota Ambon, itu vokal grup Sani dulu menyanyi lagu ini,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan para peserta membawakan lagu-lagu khas Maluku dalam format jukulele menjadi salah satu bentuk kreativitas sekaligus upaya menjaga dan mengembangkan musik serta budaya lokal di kalangan generasi muda Kota Ambon.












