Example floating
Example floating
Example 728x250
Daerah

Podcast Ngobras RRI Ambon: Jangan Asal Sebar, Viral Belum Tentu Benar

5
×

Podcast Ngobras RRI Ambon: Jangan Asal Sebar, Viral Belum Tentu Benar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ambon,MB.Net.14 April 2026 – Di era ketika sebuah informasi hanya membutuhkan hitungan detik untuk menjadi viral, masyarakat dituntut tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi penyaring informasi yang cerdas dan bertanggung jawab.

Maraknya hoaks, judul provokatif, framing pemberitaan, hingga informasi yang disebarkan tanpa verifikasi menjadi tantangan serius dalam membangun ruang digital yang sehat.

Example 300x600

Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Podcast Ngobras (Ngobrol Bareng Komunitas) RRI Ambon bertajuk “Media, Etika, dan Ruang Digital: Menjaga Informasi Tetap Sehat”, yang digelar pada Selasa, 14 April 2026.

Podcast menghadirkan Ketua AJI Ambon R. Khairiyah, Ketua Tim Periksa Fakta Mafindo Maluku M. Sahril Salamena, serta Sekretaris AMSI Zairin Embong Salampessy. Diskusi dipandu oleh pewara Theis de Kock.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber mengingatkan bahwa derasnya arus informasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan sikap kritis. Banyaknya orang yang membagikan sebuah informasi bukan berarti informasi tersebut otomatis benar.

Ketua Tim Periksa Fakta Mafindo Maluku, M. Sahril Salamena, mengajak masyarakat membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

«”Jangan karena informasi itu sudah banyak dibagikan kemudian kita menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Masyarakat harus membiasakan diri melakukan pemeriksaan sebelum percaya dan sebelum membagikan informasi,” kata Sahril.»

Menurutnya, literasi digital merupakan benteng penting dalam menghadapi penyebaran hoaks. Masyarakat perlu memperhatikan sumber informasi, memahami konteks, serta membandingkan informasi dengan sumber-sumber yang kredibel.

Sementara itu, Ketua AJI Ambon R. Khairiyah menekankan pentingnya etika dalam menggunakan ruang digital, terutama bagi insan pers. Kebebasan berekspresi, menurutnya, harus selalu berjalan seiring dengan tanggung jawab.

«”Kebeasan berekspresi tetap harus dihormati, tetapi kebebasan itu juga harus disertai dengan tanggung jawab. Terutama bagi jurnalis, informasi yang disampaikan kepada publik harus melalui proses verifikasi dan tetap berpegang pada kode etik jurnalistik,” ujarnya.»

Di sisi lain, Sekretaris AMSI Zairin Embong Salampessy menyoroti persoalan framing pemberitaan yang dapat memengaruhi cara masyarakat memandang sebuah peristiwa.

Menurut Zairin, pemilihan judul, penggunaan bahasa, sudut pandang, hingga narasumber memiliki pengaruh besar terhadap persepsi publik. Karena itu, media dituntut tetap mampu menarik perhatian pembaca tanpa mengorbankan akurasi.

«”Media memang membutuhkan perhatian audiens, tetapi jangan sampai keinginan mendapatkan klik dan pembaca kemudian membuat isu dieksploitasi. Berita harus tetap menarik tanpa mengorbankan akurasi dan kepentingan publik,” tegasnya.»

Para narasumber sepakat bahwa membangun ekosistem informasi yang sehat bukan hanya menjadi tanggung jawab jurnalis maupun perusahaan media. Pengguna media sosial juga memiliki peran yang sama penting dalam menghentikan penyebaran informasi palsu.

Langkah sederhana seperti berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, memeriksa sumber, serta memastikan kebenaran informasi dinilai menjadi kebiasaan yang harus terus dibangun di tengah masyarakat.

Podast Ngobras RRI Ambon menjadi pengingat bahwa di tengah perlombaan menjadi yang tercepat di ruang digital, kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran.

Sebab, satu klik untuk membagikan informasi mungkin hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi dampak dari informasi yang keliru dapat berlangsung jauh lebih lama.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *