Ambon,Malukubisa.net-Sebuah gelombang komitmen baru menyapu Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon. Pada Senin (20/04), seluruh jajaran pegawai secara serentak menandatangani Ikrar Zero HALINAR, sebuah deklarasi tegas untuk menciptakan ekosistem pemasyarakatan yang steril dari Handphone ilegal, Pungutan Liar (Pungli), dan Narkoba (HALINAR).
Langkah ini bukan sekadar ritual seremonial belaka. Ini adalah manifestasi nyata dari tekad bulat Rutan Ambon untuk membongkar segala bentuk pelanggaran yang selama ini menjadi “penyakit kronis” di lembaga pemasyarakatan. Suasana khidmat terasa saat para pegawai, satu per satu, membubuhkan tanda tangan sebagai saksi atas janji suci mereka untuk menjaga marwah institusi.
Suara Tegas dari Pimpinan
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Rutan Ambon, Jefry Persulessy, memimpin langsung gelora semangat ini. Dalam sambutannya yang menggelegar namun penuh kearifan, Jefry menekankan bahwa perang melawan HALINAR adalah harga mati.
“Hari ini kita tidak hanya menandatangani kertas, tetapi kita sedang mengukir prinsip hidup,” tegas Jefry di hadapan seluruh awak. “Komitmen Zero HALINAR harus menjadi napas dalam setiap langkah tugas kita. Ini tentang integritas, tentang kehormatan kita sebagai aparatur negara.”
Jefry mengingatkan bahwa HALINAR adalah racun yang dapat melumpuhkan sendi-sendi disiplin, meruntuhkan sistem pengawasan, dan pada akhirnya mencoreng wajah kemanusiaan dari institusi pemasyarakatan itu sendiri.
“Musuh kita nyata. Jika kita lengah sedikit saja, tatanan keamanan akan goyah. Karena itu, kesadaran kolektif adalah kunci. Kita harus saling jaga, saling ingatkan, dan berani berkata ‘tidak’ pada segala bentuk penyimpangan,” lanjutnya dengan nada persuasif.
Dari Kata Menjadi Aksi Nyata
Penandatanganan ikrar ini diharapkan menjadi titik balik transformasi budaya kerja di Rutan Ambon. Jefry berharap, setelah acara ini usai, semangat tersebut terimplementasi dalam tindakan sehari-hari: mulai dari ketelitian pemeriksaan, kejujuran dalam pelayanan, hingga keberanian melaporkan indikasi pelanggaran.
“Saya ingin melihat Rutan Ambon bukan hanya sebagai tempat penahanan, tapi sebagai pusat pembinaan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Mari kita buktikan bahwa kita mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan warga binaan,” pungkas Jefry menutup sambutannya.
Dengan ditegaskannya ikrar ini, Rutan Ambon kini berdiri lebih kokoh. Sinergi antarpegawai diperkuat, benteng pertahanan integritas dibangun lebih tinggi, dan harapan menuju sistem pemasyarakatan yang profesional dan bermartabat di Bumi Raja-Raja semakin dekat untuk diwujudkan.
(Humas Rutan Ambon)












