AMBON,Malukubisa.Net-Sebanyak 1.500 anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kota Ambon ambil bagian dalam Parade Kebaya Ambon yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perempuan Indonesia Maju (PIM) Provinsi Maluku di kawasan Gong Perdamaian Dunia, Kota Ambon, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional dan Hari Anak Nasional ini menjadi momentum menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia kepada anak-anak sejak usia dini.
Bunda PAUD Kota Ambon, Lisa M. Wattimena, mengatakan keterlibatan ribuan anak PAUD dalam parade bukan sekadar memeriahkan peringatan nasional, tetapi menjadi bagian dari pendidikan karakter melalui pengenalan budaya lokal.
Menurutnya, kebaya bukan hanya busana tradisional, melainkan simbol identitas bangsa yang mencerminkan keanggunan, kelembutan, serta ketangguhan perempuan Indonesia.
“Melalui Parade Kebaya Ambon, kita mengajarkan anak-anak untuk mengenal, mencintai, dan bangga terhadap budaya serta warisan leluhur sejak usia dini. Inilah bagian dari pembentukan karakter generasi penerus,” ujar Lisa.
Ia memberikan apresiasi kepada DPD PIM Provinsi Maluku dan seluruh panitia yang telah menginisiasi penyelenggaraan Parade Kebaya Ambon. Menurutnya, perpaduan peringatan Hari Kebaya Nasional dan Hari Anak Nasional memiliki makna strategis karena mengingatkan pentingnya menjaga budaya sekaligus memenuhi hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pendidikan dan pembentukan karakter.
Lisa menilai parade tersebut juga menjadi simbol persatuan masyarakat Maluku yang hidup dalam keberagaman.
“Melalui Parade Kebaya Ambon, kita menunjukkan bahwa keberagaman budaya, agama, dan suku menjadi kekuatan untuk bersatu dalam semangat melestarikan budaya bangsa,” katanya.
Sebagai Bunda PAUD Kota Ambon, Lisa menegaskan pengenalan budaya harus dimulai sejak usia dini melalui berbagai media pembelajaran, seperti penggunaan pakaian adat, lagu daerah, tarian tradisional, permainan rakyat, hingga cerita rakyat sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi, ia mengajak para orang tua, guru, dan seluruh elemen masyarakat untuk terus mengenalkan budaya lokal kepada anak-anak agar nilai-nilai luhur dan identitas budaya Maluku tetap terjaga.
“Pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama agar warisan budaya terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya.













