AMBON,Malukubisa.net-Komitmen Pemerintah Kota Ambon dalam merawat warganya dari buaian hingga liang lahat kembali dibuktikan. Kali ini, melalui peresmian Sekolah Lansia BKL (Bina Keluarga Lansia) Elim yang berlokasi di Dusun Seri, Negeri Urimessing, Kecamatan Nusaniwe, pada hari ini.
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, hadir langsung memimpin peluncuran program strategis ini. Dalam sambutannya yang penuh makna, ia menegaskan filosofi dasar pemerintahan daerah: tanggung jawab negara tidak berhenti saat warga dewasa, tetapi berlanjut hingga masa senja mereka.
“Kita bersyukur dapat berkumpul di sini. Ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab menyeluruh. Sejak lahir, negara memberikan akta kelahiran. Selama hidup, negara memfasilitasi pendidikan dan kesehatan. Hingga meninggal dunia, negara pun hadir mengurus pemakaman. Ini adalah bentuk cinta negara kepada rakyatnya,” ujar Bodewin dengan nada tegas namun hangat.
Bagi Bodewin, perhatian terhadap lansia bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian integral dari pembangunan daerah yang berkeadilan. Ia menolak pandangan bahwa lansia adalah beban; sebaliknya, ia melihat mereka sebagai aset sosial yang berharga.
Sekolah Lansia BKL Elim menjadi sekolah lansia ketiga yang didirikan di Kota Ambon. Kehadirannya diharapkan memperluas jangkauan program pemberdayaan usia lanjut, terutama di wilayah pinggiran seperti Negeri Urimessing.
Bodewin menjelaskan bahwa konsep sekolah ini berbeda dengan pendidikan formal pada umumnya. Fokus utamanya adalah pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) yang dikemas secara santai dan menyenangkan.
“Di sini, para orang tua kita tidak hanya belajar keterampilan baru atau menjaga kesehatan fisik. Lebih dari itu, ini adalah ruang untuk berbagi cerita, pengalaman hidup, dan memperkuat ikatan sosial. Tujuannya sederhana: agar lansia tetap sehat, mandiri, bahagia, dan merasa dihargai,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa isolasi sosial sering kali menjadi musuh terbesar lansia. Dengan adanya sekolah ini, interaksi antar-sesama lansia terjalin kembali, menciptakan komunitas yang saling mendukung dan positif.
Wali Kota juga menyoroti peran strategis lansia sebagai penjaga nilai-nilai luhur, budaya, dan kearifan lokal di tengah masyarakat. Pengalaman hidup yang mereka miliki dianggap sebagai modal sosial yang tak ternilai bagi generasi muda.
“Lansia adalah perpustakaan berjalan. Mereka harus diberi ruang untuk tetap berkarya dan berpartisipasi. Jangan biarkan mereka tersisih. Justru, energi dan kebijaksanaan merekalah yang bisa menstabilkan dinamika sosial di keluarga dan masyarakat,” tegas Bodewin.
Melalui peluncuran Sekolah Lansia BKL Elim ini, Pemkot Ambon berharap tercipta ekosistem kota yang benar-benar inklusif dan ramah lansia (age-friendly city). Program ini diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup peserta didik lansia, tetapi juga membawa dampak positif bagi ketahanan keluarga dan keharmonisan masyarakat luas.
“Mari kita dukung bersama. Biarkan sekolah ini berkembang, sehingga setiap lansia di Ambon merasakan kehadiran negara yang nyata dalam hari-hari tua mereka,” pungkas Wali Kota menutup acara.












